Makin lama makin jelas. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Bokep Asia Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Wien, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah pada Junior. Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Wajahku merah padam. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah




















