Bila malam hanya diterangi lampu minyak karena belum terjangkau listrik. Bokeb Marsitah yang putih mulus itu bertelanjang dada, sedang “naik kuda”. Karena kaki Bu Etik cukup berat, maka terpaksa kuangkat, akibatnya selimutnya mlorot dan pahanya yang mulus itu terpampang jelas di depanku. Kadang sampai larut malam kita tidak tidur, berkumpul di kamar depan, karena hanya ada dua kamar di posko itu.Aku pegang gitar, mengiringi teman-teman menyanyi lagu-lagu nostalgia. Dengkurnya halus. Karena sibuk mengurusi kaki Bu Eti, aku terlepas dari pelukan Endah. BAB di sungai dengan air jernih yang mengalir deras. Lelah menyanyi berbicang-bincang membicarakan masalah pribadi, bahkan mencurahkan rahasia terdalam. Menahan rangsangan itu sampai gigiku gemeletuk seperti kedinginan.Kesadaranku makin lama makin hilang, otak sudah dikuasai rangsangan birahi yang menggelegak.




















